APA ITU TOXIC MASCULINITY? BERIKUT PENJELASANNYA!
Lovers sebagian dari kalian pasti pernah ngalamin yang namanya toxic masculinity kan? Contohnya seperti “kamu kan laki-laki, gak boleh nangis!” Sikap tersebut sudah termasuk toxic masculinity loh.

Apa itu toxic masculinity?
Toxic masculinity dapat didefinisikan sebagai perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Misalnya, pria harus menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan pantang mengekspresikan emosi.
Ciri-ciri toxic masculinity:
Dalam konsep toxic masculinity, emosi cenderung dinilai sebagai kelemahan dan kejantanan identik dikaitkan dengan kekuatan, ketangguhan, atau wibawa. Jadi, setiap laki-laki harus mampu menyimpan emosi dalam situasi apa pun, khususnya kesedihan, dan bersikap dominan, seperti dalam adat patriarki.
Selain itu, sikap toxic masculinity juga biasanya tampak melalui beberapa ciri berikut:
- Tidak menunjukkan emosi sedih dan mengeluh, serta menganggap bahwa laki-laki hanya boleh mengekspresikan keberanian dan amarah
- Tidak perlu menerima bantuan dan tidak boleh bergantung pada siapa pun
- Berperilaku kasar dan agresif, serta mendominasi orang lain, khususnya wanita
- Menganggap “keren” kebiasaan yang tidak sehat, seperti merokok, minum-minuman beralkohol, bahkan mengonsumsi obat-obatan terlarang
- Anggapan bahwa pria tidak boleh mengerjakan atau memiliki minat terhadap aktivitas yang identik dengan pekerjaan kaum perempuan, misalnya memasak, menjahit, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Bahaya toxic masculinity:
- Gangguan mental
- Memendam emosi
- Rendah empati
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Merasa sendirian, dll.
Dampak toxic masculinity bisa menyebabkan depresi hingga bunuh diri pada korban yang mengalami.
Seiring berkembangnya zaman membawa perubahan pada gaya hidup dan cara pandang. Misalnya, penampilan dan perawatan kulit bukan hanya diperhatikan wanita, tapi juga laki-laki. Produk skincare laki-laki semakin beragam dan banyak digunakan pada kalangan anak muda dan yang sudah bekerja, terlebih jika penampilan menjadi hal penting dalam menunjang pekerjaan. Para penggiat kesehatan mental pun mendorong pria untuk bisa mengekspresikan emosi secara terarah, memperhatikan kebutuhan diri, dan mengurangi pandangan yang salah di masyarakat.


Comments
This post currently has no comments.